Sabtu, 20 Desember 2014

18 Hal Yang Membuat Dosa Dapat Diampuni Dan Dihapuskan

by Quito Riantori

Allah Swt berfirman :
“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Padahal Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS Al-Maidah [5] ayat 74)

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas
terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS Al-Zumar [39] ayat 53)

1. BERTAUBAT
Al-Quran yang suci mengatakan :”Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri , mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran [3] ayat 135)

“Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Maidah [5] ayat 39)

2. BERBAKTI DAN MENDOAKAN KEDUA ORANGTUA
Al-Quran yang mulia mengatakan : “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS Al-Ahqaf [46] : 15-16)

2. MENGIKUTI PETUNJUK, DAN WASIAT RASULULLAH SAW SERTA MEMULIAKANNYA
Al-Quran yang mulia mengatakan: “Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad Saw), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran [3] ayat 31)

“Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Hujurat [49] ayat 3)

3. INFAQ
Allah Swt berfirman : “Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.” (QS Al-Taghabun [64] ayat 17)

4. BALASAN DI DUNIA
Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, “Apabila Allah menghendaki kebaikan atas seseorang hamba maka Allah segerakan balasannya di dunia. Sebaliknya jika Allah menghendaki keburukkan atas seorang hamba maka ditundalah balasannya sehingga ia mendapatkannya di Hari Qiyamat.” (Bihar al-Anwar 81:177)

5. SABAR ATAS UJIAN HIDUP
Al-Quran suci mengatakan : “..kecuali orang-orang yang sabar, dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. (QS Hud [11] ayat 11)

Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya seorang mu’min itu apabila melakukan dosa maka diujilah dia dengan kefakiran maka apabila ia sabar niscaya hal itu menjadi penghapus dosanya. Atau diuji ia dengan penyakit, maka apabila ia sabar niscaya hal itu menjadi penghapus dosanya atau ia diuji dengan rasa ketakutan dari Sultan (raja) yang menuntutnya, maka hal itupun menjadi penghapus dosanya atau ia dicoba sehingga ia menemui kematiannya maka ketika ia berjumpa dengan Allah maka tidak ada lagi dosa-dosanya dan Allah memasukkannya ke dalam surga.” (Bihar al-Anwar 81 : 199)

6. MUSIBAH 
Rasulullah saww bersabda, “Tidaklah menimpa musibah kepada seorang mu’min laki-laki dan perempuan atas dirinya dan hartanya serta anaknya sehingga ketika ia menjumpai Allah maka tidak ada lagi kesalahan padanya.”
(Bihar al-Anwar 67 : 236)

7. SIKSA KUBUR DI ALAM BARZAKH
Imam Ali ar-Ridha as berkata, “[Di dalam firman-Nya : “Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.” (QS Al-Rahman [55] ayat 39)], “Sesungguhnya barangsiapa yang memiliki keyakinan yang benar lalu dia berbuat dosa dan dia tidak sempat bertaubat di dunia, maka diazablah ia di Alam Barzakh sampai ketika ia di hari Qiyamat tidak ada lagi dosanya dan tidak pula ia ditanya tentang itu” (Tafsir Nur ats-Tsaqalain 5 : 155)

8. PENYAKIT
Imam Ali ar-Ridha as berkata, “Sakit bagi orang mu’min merupakan penyucian (atas dosanya) dan juga rahmat. Tetapi bagi orang yang ingkar, sakit adalah ’azab dan laknat dan sesungguhnya penyakit bagi seorang mu’min adalah penghapus dosa.” (Bihar al-Anwar 81 : 183)

Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya penyakit itu membersihkan jasad dari dosa-dosa sebagaimana alat peniup pandai besi membersihkan karat dari besi.” (Bihar al-Anwar 81 : 197)

Ditanyakan kepada Amirul Mu’minin as tentang penyakit yang menimpa seorang bayi, beliau menjawab, “Itu merupakan penghapus dosa (kafarat) bagi orang tuanya.” (Bihar al-Anwar 81 : 186)

Allah Ta’ala berfirman (di dalam hadits Qudsi), “Ahli taat-Ku dalam jamuan-Ku, dan ahli syukur-Ku dalam limpahan-Ku, dan ahli dzikir-Ku dalam nikmat-Ku, tapi ahli maksiat kepada-Ku tidak ada bagian untuk mereka dari rahmat-Ku. Tetapi jika mereka bertaubat maka Aku adalah kekasihnya, dan apabila mereka berdoa maka Aku akan jawab doanya dan apabila mereka sakit, Aku yang akan menyembuhkannya dan Aku akan mengobati mereka dengan ujian dan musibah untuk membersihkan mereka dari dosa-dosa dan cela.”
(Bihar al-Anwar 77 : 42)

9. KESEDIHAN
Rasulullah saww bersabda, “Apabila seorang mu’min telah banyak dosa-dosanya dan ia belum mengamalkan apa-apa yang dapat menghapus dosa-dosanya maka Allah akan mengujinya dengan kesedihan demi menghapus dosa-dosanya.” (Bihar al-Anwar 73 : 157)

Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya kesedihan itu menghapus dosa orang muslim.” (Bihar al-Anwar 73 : 157)

10. KESUSAHAN DI DALAM MENCARI PENGHIDUPAN (NAFKAH)
Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya ada dosa di antara dosa-dosa yang tidak dapat dihapus dengan shalat dan tidak juga dengan sedekah.”, maka ditanyakan kepada Nabi saww, “Apakah yang dapat menghapusnya wahai Rasulullah?”, jawab Nabi, “Kesusahan di dalam mencari penghidupan.”
(Bihar al-Anwar 73 : 157)

11. TAQWA, KEJUJURAN, PERBUATAN BAIK, DAN AMAL SHALIH
Allah SwT berfirman, “Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.”
(QS Al-Thalaq [65] ayat 5)

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”
(QS Hud [11] ayat 114)

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min , laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS Al-Ahzab [33] ayat 35)

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”
(QS Al-Ahzab [33] 70-71)

Lihat ayat-ayat lainnya : QS 34:4; 35:7; 36:11, 67:12

12. AKHLAQ YANG BAIK
Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya akhlaq yang baik itu menghapus kesalahan (dosa) sebagaimana matahari mencairkan es dan sesungguhnya akhlaq yang buruk itu merusak amal (baik) sebagaimana cuka merusak madu.” (Bihar al-Anwar 71 : 356)

Rasulullah saww bersabda,“4 hal yang dapat menghapus dosa dan Allah gantikan dengan kebaikan : 1. Shadaqah, 2. Malu, 3. Akhlaq yang baik, 4. Rasa syukur.” (Bihar al-Anwar 71 : 332)

13. MEMPERBANYAK SUJUD
Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saww dan berkata,“Wahai Rasulullah, telah banyak dosa-dosaku tapi sedikit amalku,” maka Rasul saww bersabda, “Perbanyaklah sujud karena sujud itu menggugurkan dosa sebagaimana angin menggugurkan dedaunan dari pohon” (Bihar al-Anwar 85 : 162)

14. HAJJI DAN UMRAH
Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saww telah bersabda, ”Dari satu umrah ke umrah berikutnya merupakan penghapus dosa yang ada di antara keduanya dan hajji yang diterima (Allah) balasannya adalah surga dan ada suatu dosa di antara dosa-dosa yang tidak dapat diampuni kecuali dengan wukuf di ‘Arafah.” (Bihar al-Anwar 99 : 50)

Imam Ali as berkata, ”Menjalani hajji ke Bait Allah dan umrahnya, keduanya menghapus kefakiran dan mencuci dosa.” (Nahjul Balaghah, Khutbah ke 110)

15. BERDOA, BERISTIGHFAR DAN BERZIKIR
Al-Quran yang mulia mengatakan : “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS Al-Nisa [4] ayat 110)

16. BANYAK MEMBACA SHALAWAT KEPADA NABI MUHAMMAD DAN KELUARGANYA
Imam Ali Ar-Ridha as berkata, “Barangsiapa yang belum mampu untuk menghapus dosa-dosanya maka perbanyaklah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, karena yang demikian itu dapat merontokkan dosa serontok-rontoknya” (Bihar al-Anwar 94 : 47)

17. HIJRAH, BERJIHAD DI JALAN ALLAH & MENAMPUNG KAUM MUHAJIRIN *]
Al-Quran yang mulia mengatakan :”Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya : “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain . Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS Ali Imran [3] ayat 195)

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan , mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki yang mulia.” (QS Al-Anfal [8] ayat 74)

Lihat juga ayat-ayat : QS Al-Shaff [61] : 11-12;

18. KEMATIAN
Rasulullah saww bersabda, “Kematian dapat menjadi penebus dosa-dosa orang-orang beriman.” (Amali lil-Mufid, h. 166)

“Tidak ada do’a mereka selain ucapan:
“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami
dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan
dalam urusan kami
dan tetapkanlah pendirian kami,
dan tolonglah kami terhadap kaum yang ingkar.”
(QS Ali Imran [3] ayat 147)

“Ya Tuhan kami,
sesungguhnya kami mendengar
(orang) yang menyeru kepada iman :
“Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”,
maka kamipun beriman.
Ya Tuhan kami,
ampunilah bagi kami dosa-dosa kami
dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami,
dan wafatkanlah kami beserta
orang-orang yang banyak berbakti.”
(QS Ali Imran [3] ayat 193)

Amin ya Ilahi Rabbi…

post at MRA : http://meraihridoallah.blogspot.com

Senin, 15 Desember 2014

Hijrah (Bag.1)

Semoga Allah Swt Yang Maha Agung, menghijrahkan kita dari kemusyrikan kepada tauhid. Dari kemunafikan kepada shidik. Dari cinta dunia kepada cinta akhirat. Dari kejahilan kepada ilmu pengetahuan. Dari berilmu banyak menjadi ahli amal yang ikhlas dan istiqamah.
 
Hijrah adalah jalan orang yang sukses. Allah Swt berfirman di dalam Al Quran, “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At Taubah [9]: 20).
 
Sebelum kita mengulas lebih dalam tentang hijrah, mari kita tadaburi terlebih dahulu makna ayat di atas. Ayat tersebut di atas adalah resep yang harus kita miliki apabila kita ingin menggapai kesuksesan. Di akhir ayat ini disebutkan tentang orang-orang yang memperoleh kemenangan atau kesuksesan. Kemenangan atau kesuksesan dalam ayat ini adalah kemenangan atau kesuksesan yang hakiki. Bukan kemenangan atau kesuksesan dalam ukuran dan pandangan manusia. Melainkan kemenangan atau kesuksesan dalam pandangan Allah Swt, Dzat Yang Menciptakan manusia.
 
Lantas, siapa dan bagaimanakah orang yang akan mendapatkan kesuksesan sebagaimana disebutkan di penghujung ayat tersebut? Jawabannya masih ada di dalam ayat ini.
 
Langkah pertama menjadi orang yang meraih kesuksesan adalah beriman. Yaitu, keimanan kepada Allah Swt. Yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah Swt senantiasa mendengar bisikan hati kita. Yakin dengan sepenuh hati bahwa Dia selalu mengetahui setiap perbuatan yang kita lakukan sejak dahulu hingga sekarang.
 
Orang yang beriman dijanjikan kemenangan oleh Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya di dalam Al Quran yang berbunyi, “Allah telah menetapkan, “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (QS. Al Mujadalah[58]: 21).
 
Di dalam ayat-Nya yang lain disampaikan bahwa Allah Swt akan memberikan pertolongan kepada orang-orang beriman baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari Kiamat)”. (QS. Al Mu’min[40]: 51)  
 
Keimanan tidak hanya diucapkan dengan bibir dan lisan. Melainkan keimanan yang diwujudkan dengan keteguhan hati dan perbuatan keseharian yang semakin baik dan semakin berkualitas dari waktu ke waktu.
 
Bagaimana langkah berkutnya yang harus dilakukan untuk bisa memperbaiki kualitas diri? Jawabannya adalah sesuai dengan ayat tersebut di atas yaitu langkah kedua, berhijrah. Hijrah adalah berpindah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Atau, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
 
Hijrah memiliki dua makna. Ada hijrah secara makna (ma’nawiyyah) dan ada hijrah secara fisik (makaniyyah). Hijrah secara makna adalah hijrah kepribadian, dari keadaan pribadi sebelumnya kepada keadaan pribadi yang lebih baik secara lahir dan batin. Adapun hijrah secara fisik adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain yang situasinya lebih baik.
 
Sahabatku, semoga kita semua menjadi orang-orang yang senantiasa memiliki semangat berhijrah. Sebagaimana yang telah diteladankan oleh Rasulullah Saw bersama para sahabat ketika mereka berhijrah dari Mekkah menuju Madinah. Mari kita tafakuri sejenak peristiwa tersebut.
 
Ketika Rasulullah Saw menyerukan para sahabatnya untuk berhijrah ke kota Madinah, perpindahan tersebut dimaksudkan untuk mempertahankan keimanan mereka kepada Allah Swt. Lantas apa yang dilakukan setelah berhijrah? Hijrah bukanlah tujuan akhir rupanya, melainkan pintu gerbang menuju hal yang jauh lebih besar lagi.
 
Setelah berhijrah ke Madinah, Rasulullah Saw beserta orang-orang beriman kala itu melakukan langkah selanjutnya yaitu berjihad, berjuang dengan sungguh-sungguh. Tidak ada sikap bersantai atau berleha-leha setelah perpindahan mereka. Karena, tujuan utama bukanlah perpindahan itu. Tujuan utama bukanlah sekedar menyelamatkan diri mereka dari gangguan dan kekerasan kaum kafir di kota Mekkah belaka. Tujuan utama perpindahan tersebut adalah perjuangan syiar Islam. Tujuan utama Rasulullah Saw beserta para sahabat kala itu adalah jihad.
 
Ini adalah langkah ketiga untuk meraih kesuksesan, yaitu jihad atau berjuang dengan sungguh-sungguh. Dari kisah hijrahnya Rasulullah Saw beserta para sahabat ke Madinah, ada satu pelajaran yang amat berharga. Yaitu, bahwa hijrah itu bukanlah berpindah untuk pergi meninggalkan masalah atau meninggalkan problem. Hijrah adalah berpindah atau pergi untuk meningkatkan amal ke depan. Untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan.
 
Hijrah adalah untuk berjuang. Namun, berjuang seperti apa? Karena banyak juga yang berjuang akan tetapi untuk hal yang salah kaprah sehingga tersesat ke jalan yang salah. Perjuangan yang benar adalah perjuangan di jalan Allah Swt. Perjuangan yang dilakukan dengan tujuan membela menegakkan agama-Nya. Perjuangan mengukuhkan keadilan dan mengangkat kebenaran. Inilah yang ditempuh oleh Rasulullah Saw dan para sahabat setelah hijrah ke Madinah.
 
Jihad atau berjuang adalah kalimat yang umum dan milik bersama. Kalimat yang bisa dipakai atau diusung oleh siapa saja. Baik oleh mereka yang memperjuangkan kebenaran maupun memperjuangkan kejahatan. Mereka sama-sama berjuang. Oleh karena itulah di dalam Al Quran, kalimat “jihad” diikat dengan kalimat “fii sabilillah” yang berarti “di jalan Allah”. Allah Swt menyeru kepada manusia yang beriman kepada-Nya untuk melakukan perjuangan dengan sungguh-sungguh demi menggapai tujuan yang diridhai oleh-Nya.
 
Adapun jihad di jalan Allah Swt bisa berlangsung dengan dua bekal. Bekal pertama adalah siap berkorban dengan harta. Bekal kedua adalah siap berkorban dengan anfus atau diri. Kalimat “anfus” tidak hanya berarti diri secara jasad. Kalimat anfus memiliki makna yang luas meliputi jasad, jiwa dan perasaan. Termasuk meliputi rasa sayang terhadap diri sendiri, sayang pada pasangan, sayang pada keluarga, dan sayang harta kekayaan. Siap berkorban dengan anfus bermakna siap berkorban dengan apapun yang dicintainya demi membuktikan kesetiaan dan cintanya kepada Allah Swt.                      
 
Jika seseorang sudah bisa berjihad sebagaimana yang diserukan di dalam ayat ini, maka ia akan dianugerahi derajat yang sangat tinggi oleh Allah Swt. Tentu saja derajat yang sangat tinggi dan mulia ini bukan di dalam ukuran pandangan manusia. Melainkan dalam pandangan Allah Swt, yang itu artinya ketinggian dan kemuliaannya tidak bisa diukur oleh manusia.
 
Boleh jadi ketika seseorang selesai berjihad di jalan Allah, kondisinya menjadi terluka atau tidak memiliki harta. Kondisi yang di dalam pandangan manusia merupakan kondisi yang rendah dan menyedihkan. Tapi, sesungguhnya ia mendapatkan ganjaran derajat yang sangat tinggi di sisi Allah Swt. Hal ini sudah sejak dahulu terbukti.
 
Bukankah banyak sekali para sahabat Rasulullah Saw. yang terluka dan menderita saat berjihad di jalan Allah Swt. Keadaan mereka dicibir oleh kaum kafir. Namun, para sahabat ini mendapatkan kedudukan mulia di sisi Allah Swt dan dijanjikan surga oleh-Nya. Bahkan, perjuangan para sahabat inipun telah berbuah kesuksesan berupa kemenangan dan semakin tegak kokohnya Islam.
 
Jika derajat seseorang telah ditinggikan dan dimuliakan oleh Allah Swt, maka tidak ada seorangpun dan tidak ada satu makhluk pun, sekuat apapun, yang bisa merendahkannya. Sedangkan jika seseorang ditinggikan derajatnya oleh sesama manusia, maka jangankan oleh Allah Swt, bahkan ia bisa dengan mudah direndahkan kembali oleh manusia, atau bisa kembali rendah begitu saja dengan sendirinya.
 
Demikianlah, kesuksesan sejati hanya bisa diraih oleh orang-orang yang mau beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah Swt. Tanda kesuksesan tidak pada pandangan atau ukuran manusia, melainkan pada pandangan Allah Swt. Kesuksesan sejati itu bukan harta kekayaan, pangkat, kedudukan dan popularitas. Kesuksesan sejati itu adalah tempat yang baik di mulia Allah Swt.

di copy dari SMSTauhiid aagym

Sabtu, 13 Desember 2014

Jangan Diperbudak Keinginan

Apabila setiap keperluan kita tercukupi, sunggu itu karunia yang luar biasa.

dan Alloh membuat kita susah berbuat dosa.

ada rencana untuk berbuat kejelekan, kemudian digagalkan Alloh.

Mau membuat usaha yang menjerumuskan, tiba-tiba tidak jadi.

Berteman dengan yang bisa menggelincirkan ke maksiatan, dibuat Alloh mejauh.

Kita punya kawan yang punya jabatan, tapi dibuat Alloh tidak mau bersahabat dengan kita, karena Alloh tau kalau bersahabat dengan kita, cenderung membuat hati kita keras.

Jatuh cita kepada seseorang, belum jadi halal, tiba-tiba yang ditaksir jatuh cinta kepada orang lain, sehingga tidak bisa dekat dengan kita. itu pun karunia Alloh.

Apapun yang membuat kita jauh dari Alloh, kemudian dicegah Alloh. maka itu NIKMAT.

Apapun yang dimudahkan tapi membuat kita jauh dari Alloh, maka itu PETAKA.

Rezeki itu sebetulnya bukan punya tabungan, punya kendaraan, tetapi saat kita memerlukan kita bisa menggunakan. tanpa harus hati kita terikat dengan duniawi.

semakin banyak kenginan, akan membuat kita semakin sengsara.

Padahal Alloh lebih tahu kebutuhan kita daripada kita sendiri.

Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.

Jadikan Allah Saja Sebagai Penolong


Allah Swt berfirman,
“..Hasbunallah wani’mal wakil (Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar).” (QS. Ali `Imran [3] : 173).

Ayat di atas adalah ucapan doa nabi Ibrahim AS kepada Allah Swt, manakala beliau berhadapan dengan penguasa Babilonia yaitu raja Namrud. 

Sebelumnya, Nabi Ibrahim AS menghancurkan seluruh berhala yang disembah rakyat dan penguasa Babilonia, dan menyisakan satu yang paling besar. 

Hal itu beliau lakukan karena beliau yakin bahwa yang mereka lakukan adalah perbuatan yang salah kaprah dan sesat menyesatkan.
Nabi Ibrahim AS bermaksud untuk mengajak mereka berpikir menggunakan kejernihan akal, bahwa sesungguhnya yang mereka lakukan adalah kesesatan. Beliau bermaksud mengajak mereka untuk menyembah Allah Swt., Dzat yang telah menciptakan mereka.